Selasa, 12 Mei 2009

Rokok Mengancam Kejantanan Pria

Peringatan pemerintah 'Merokok dapat merugikan kesehatan' pada setiap bungkus rokok, ternyata bukan basa-basi. Bila anda termasuk perokok berat (lebih dari satu bungkus per hari) dan sudah berlangsung lama, waspadalah. Merokok dapat mengancam kejantanan Anda!

Gara-gara rokok - yang secara keliru sering diasosiasikan sebagai simbol kejantanan - Anda mungkin bakal kehilangan kejantanan. Resiko menjadi ppria loyo di atas ranjang lebih besar diderita oleh kaum perokok dibandingkan mereka yang mengharamkan produk berasap ini.

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa merokok merupakan faktor risiko dari berbagai penyakit, seperti jantung, darah tinggi, aterosklerosis (penyumbatan pada pembuluh darah), paru-paru, berbagai jenis kanker serta penurunan kualitas dan kuantitas sperma.

Walaupun demikian, simbol kejantanan yang satu ini tetap saja digemari. Sebagian besar perokok umumnya berpendapat betapa susahnya menghentikan kebiasaan ini. Mereka tidak mau berhenti merokok untuk menjaga kesehatan dan menyelamatkan nyawa mereka.

Kim Belshe dari California Department of Health Science mengingatkan, mungkin para pria perokok akan mempertimbangkan keinginannya untuk berhenti merokok secara lebih serius bila mereka diberi tahu bahwa kebiasaan itu bisa menyebabkan penurunan kejantanan.

Bagi sebagian besar pria, efek negatif rokok pada kesehatan seperti penyempitan pembuluh darah (darah tinggi), penyakit jantung, paru-paru dan gangguan sistem pernafasan lainnya, tidak begitu mereka pedulikan.

Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa kelompok perokok memiliki persentase kejadian disfungsi ereksi lebih berat dibandingkan kelompok yang tidak merokok. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk membuktikan pengaruh rokok terhadap disfungsi ereksi.

Dari penelitian tersebut didapatkan adanya keterkaitan antara ketegangan penis (penile rigidity) selama ereksi malam (nocturnal tumescence) berkorelasi terbalik dengan jumlah rokok yang dikonsumsi per hari. Jadi makin banyak rokok yang dikonsumsi per hari, maka ketegangan penis semakin lemah.

Penjelasan mengenai bagaimana rokok dapat menimbulkan disfungsi ereksi adalah sebagai sebagai berikut. Rokok mengandung nikotin, suatu zat yang berbahaya bagi tubuh manusia. Menkonsumsi nikotin dalam jangka waktu yang lama dapat mengakibatkan kerusakan pembuluh darah perifer (pembuluh darah tepi). Kerusakan ini dapat berupa penyempitan yang disebabkan oleh pengerasan dinding dan/ atau sumbatan pada pembuluh darah tersebut (arteriosklerosis).

Semakin tinggi kadar nikotin dalam rokok, semakin parah kerusakan yang mungkin ditimbulkan. Kerusakan pembuluh darah ini tentu akan mengurangi aliran darah ke penis dan mengakibatkan penis tidak sehat, yang akhirnya menyebabkan disfungsi ereksi.

Namun, penelitian-penelitian yang telah dilakukan juga membuktikan bahwa jika kerusakan pembuluh darah tidak parah, maka penghentian merokok dapat kembali memulihkan fungsi ereksi ke kondisi normal.

Sunat bisa cegah HIV

Sunat (khitan) atau menghilangkan kulit bagian ujung penis ternyata bisa mengurangi risiko terinfeksi virus HIV. Dan kini para peneliti sudah tahu mengapa hal itu terjadi.

Menurut Carlos R. Estrada dan rekan-rekannya dari Pusat Kesehatan St. Lukes Rush-Presbyterian di Chicago, Illinois, sekitar 80% infeksi HIV biasanya muncul selama melakukan hubungan seks. Dan tempat yang paling sering dilalui infeksi HIV ini pada pria biasanya melalui penis. Nah, kalau seorang pria disunat, maka bisa mengurangi risiko infeksi dua sampai delapan kali, katanya.

Dalam penelitian yang dipresentasikan dalam pertemuan tahunan Asosiasi Urologi AS, para peneliti mengevaluasi 14 contoh jaringan kulit ujung penis dari anak-anak dan orang dewasa. Mereka juga memeriksa spesimen jaringan serviks wanita.

Untuk menentukan seberapa rentannya jaringan yang mungkin bisa terinfeksi HIV, mereka memperhitungkan tiga tipe sel sistem kekebalan yang dikenal bisa menyebabkan infeksi HIV dalam tiap spesimen. Ketiga sel itu adalah CD4+T, makrofages dan sel Langerhan.

Dibandingkan dengan jaringan serviks, jaringan kulit ujung penis ternyata mengandung jumlah tertinggi dari ketiga tipe sel yang menyebabkan infeksi itu. Dan ketiga sel penyebab infeksi ini justru paling banyak terdapat pada pria dewasa.

Selanjutnya, ketika peneliti mencoba menginfeksi sampel dengan HIV, mereka menemukan bahwa bagian permukaan dalam kulit ujung penis itu tujuh kali lebih rentan terhadap infeksi dibandingkan pada jaringan serviks dan bagian luar dari ujung penis tersebut.

"Selama melakukan hubungan seks, lapisan dalam di daerah tersebut menjadi trauma dan terinfeksi. Sedangkan bagian luar dari kulit ujung penis tersebut tidak bisa terinfeksi," kata Estrada.

Estrada menambahkan, pasien dewasa yang pernah menderita infeksi — entah terinfeksi penyakit karena penularan seksual atau infeksi tipe lainnya — juga memiliki proporsi yang tinggi terhadap sel-sel penyebab infeksi ini, dan mungkin lebih meningkatkan risiko terkena infeksi HIV.

Estrada dan rekan-rekannya juga mengukur jumlah reseptor HIV tertentu pada permukaan sel-sel. Hal ini mengikat vius dan membantunya untuk meningkatkan masuk ke dalam sel. Satu tipe yang paling menonjol disebut CCR5.

Para peneliti mengatakan bahwa agen yang mampu menghambat tempat pengikatan HIV yang bisa diterapkan ke penis atau vagina harus dikembangkan.

Mengingat sunat bisa melindungi diri terhadap pengaruh HIV, Estrada berharap bahwa negara-negara seperti di Afrika yang banyak terjangkiti HIV bisa menggalakkan sunat ini.

Penemuan ini diharapkan bisa membantu mengembangkan terapi baru yang bisa mencegah penyebaran virus penyebab AIDS.
(Majalah Konseling)